Keistimewaan 10 Malam Terakhir Ramadhan: Dalil Al-Qur’an dan Keutamaannya bagi Umat

Senin, 09 Maret 2026 | 09:22:54 WIB
Keistimewaan 10 Malam Terakhir Ramadhan: Dalil Al-Qur’an dan Keutamaannya bagi Umat

JAKARTA - Ketika Ramadhan memasuki penghujungnya, suasana ibadah umat Islam biasanya terasa semakin khusyuk dan penuh semangat. 

Banyak masjid mulai dipadati jamaah yang ingin memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, hingga berdiam diri dalam i’tikaf. Fase ini tidak sekadar menjadi penutup bulan suci, tetapi juga momen penting yang diyakini menyimpan keberkahan luar biasa.

Perhatian besar umat Islam terhadap sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan tanpa alasan. Dalam berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits, periode ini disebut sebagai waktu yang memiliki keutamaan besar dibanding malam-malam lainnya. Kesempatan meraih pahala berlipat, ampunan dosa, serta kemungkinan bertemu dengan malam Lailatul Qadar membuat banyak orang berusaha memaksimalkan ibadah pada waktu tersebut.

Mengapa 10 malam terakhir Ramadhan begitu istimewa? Ini selalu muncul setiap tahun ketika bulan suci memasuki fase penghujungnya. Sepuluh malam ini bukan sekadar penutup Ramadhan, tetapi puncak dari seluruh rangkaian ibadah.

Lalu sebenarnya Mengapa 10 malam terakhir Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya terletak pada turunnya Lailatul Qadar, limpahan ampunan, serta kesungguhan Rasulullah dalam menghidupkan malam-malam tersebut.

Sepuluh malam terakhir menghadirkan perpaduan rasa harap dan cemas. Harap karena peluang meraih pahala besar, cemas karena belum tentu dapat bertemu Ramadhan berikutnya.

Rasulullah SAW memberikan teladan dengan meningkatkan ibadah di fase ini. Dalam hadits riwayat Muslim, disebutkan bahwa beliau bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir melebihi malam-malam lainnya.

Kesungguhan Rasulullah di Akhir Ramadhan

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya dan menghidupkan malam-malam terakhir dengan ibadah.

Praktik i’tikaf menjadi salah satu sunnah yang ditekankan pada fase ini. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah.

Kesungguhan ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir memiliki nilai lebih dibanding malam lainnya.

Bahkan Rasulullah yang telah dijamin surga tetap meningkatkan kualitas ibadahnya.

Lailatul Qadar, Inti Keistimewaan

Keistimewaan utama terletak pada Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Qadr ayat 2-3:

????? ????????? ??? ???????? ????????? ? ???????? ????????? ?????? ???? ?????? ??????

Latin: Wa maa adraaka maa lailatul qadr. Lailatul qadri khairun min alfi syahr.

Artinya: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Ibadah pada malam tersebut nilainya lebih baik dari 1.000 bulan atau setara lebih dari 83 tahun.

Karena itu Rasulullah bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari).

Malam Turunnya Al-Qur’an

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 185:

?????? ????????? ??????? ???????? ????? ??????????

Latin: Syahru Ramadhanal ladzi unzila fiihil Qur’an.

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”

Momentum turunnya Al-Qur’an menjadi alasan kuat mengapa sepuluh malam terakhir sangat diagungkan.

Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia diturunkan pada malam penuh kemuliaan.

Malam Penuh Keberkahan dan Kesejahteraan

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Dukhan ayat 3:

?????? ????????????? ??? ???????? ???????????

Latin: Innaa anzalnaahu fii lailatin mubaarakah.

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.”

Dalam QS Al-Qadr ayat 5 disebutkan:

??????? ???? ??????? ???????? ?????????

Latin: Salaamun hiya hatta mathla’il fajr.

Artinya: “Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Malam tersebut dipenuhi ketenangan, rahmat, dan keberkahan bagi yang menghidupkannya.

Malam Penuh Ampunan

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari).

Ampunan menjadi hadiah besar bagi yang bersungguh-sungguh.

Doa yang dianjurkan pada malam itu adalah:

?????????? ??????? ??????? ??????? ????????? ??????? ??????

Latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.

Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.”

Turunnya Para Malaikat

Dalam QS Al-Qadr ayat 4 disebutkan:

????????? ?????????????? ?????????? ??????

Latin: Tanazzalul malaa’ikatu war ruuhu fiihaa.

Artinya: “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril).”

Turunnya malaikat membawa rahmat dan ketetapan penuh hikmah. Ini menjadi bukti spiritual bahwa malam tersebut memiliki nilai kosmis yang luar biasa.

Pintu Langit Dibuka, Neraka Ditutup

Dalam hadits riwayat An-Nasa’i disebutkan bahwa di bulan Ramadhan pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup.

Sepuluh malam terakhir menjadi puncak dari suasana spiritual tersebut.

Setiap amal dilipatgandakan, sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.

Momentum Evaluasi dan Perjuangan Terakhir

Sepuluh malam terakhir bukan hanya tentang pahala, tetapi juga refleksi diri.

Umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah, bukan sekadar kuantitas.

I’tikaf, qiyamul lail, sedekah, dan doa menjadi amalan utama.

Kesungguhan di fase akhir menunjukkan keseriusan dalam meraih ridha Allah.

Karena itu, jawaban dari pertanyaan Mengapa 10 malam terakhir Ramadhan begitu istimewa? terletak pada Lailatul Qadar, ampunan besar, turunnya malaikat, serta peluang pahala yang melampaui hitungan usia manusia. Sepuluh malam ini ibarat garis finis dari sebuah perlombaan panjang bernama Ramadhan. Siapa yang memaksimalkan di fase akhir, berpeluang besar membawa pulang hasil terbaik.

Di malam-malam inilah suasana ibadah terasa berbeda. Masjid lebih hidup, doa-doa lebih panjang, dan hati terasa lebih lembut. Banyak orang yang sebelumnya biasa-biasa saja, mendadak jadi lebih serius mengejar qiyamul lail, memperbanyak tilawah, dan memperdalam munajat. Semua karena sadar, kesempatan emas ini belum tentu datang lagi tahun depan.

Selain itu, sepuluh malam terakhir juga menjadi momen evaluasi diri. Sudah sejauh mana Ramadhan dijalani? Apakah target khatam Al-Qur’an tercapai? Apakah shalat malam konsisten? Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong perbaikan di sisa waktu yang ada.

Istimewanya lagi, pahala yang dijanjikan tidak main-main. Satu malam bisa lebih bernilai dari puluhan tahun ibadah. Inilah rahmat Allah yang luar biasa luas. Maka, sepuluh malam terakhir bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum langka yang layak diperjuangkan dengan kesungguhan penuh.

Terkini