Akulaku Finance Salurkan Pembiayaan Rp7,44 Triliun Sepanjang 2025, Tumbuh Signifikan

Jumat, 06 Maret 2026 | 15:21:14 WIB
Akulaku Finance Salurkan Pembiayaan Rp7,44 Triliun Sepanjang 2025, Tumbuh Signifikan

JAKARTA - Kinerja industri pembiayaan digital di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. 

Kemudahan akses layanan keuangan melalui platform digital membuat masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan berbagai produk pembiayaan berbasis teknologi, termasuk layanan paylater yang kini semakin populer.

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang cepat dan praktis, perusahaan pembiayaan digital juga terus berupaya memperkuat kinerja bisnisnya. Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperluas penyaluran pembiayaan sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit agar tetap sehat.

Hal tersebut juga tercermin dari kinerja PT Akulaku Finance Indonesia sepanjang tahun 2025. Perusahaan pembiayaan berbasis digital ini berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dalam penyaluran pembiayaan, yang didukung oleh tingginya aktivitas transaksi masyarakat melalui berbagai layanan yang disediakan.

Penyaluran Pembiayaan Tumbuh Sepanjang 2025

Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia Perry Barman Slangor menyampaikan bahwa total penyaluran pembiayaan sepanjang tahun lalu mencapai Rp7,44 triliun (unaudited), meningkat 23 persen dibandingkan pencapaian pada 2024 (year-on-year/yoy).

“Pertumbuhan ini juga menyeimbangi dari penerapan manajemen risiko yang cukup konservatif. Pertumbuhan kami in fact di tahun lalu itu mencapai Rp7,4 triliun, jadi (meningkat) dibandingkan tahun sebelumnya di tahun 2024 (yang) mencapai Rp6 triliun,” kata Perry Barman Slangor di Jakarta.

Pertumbuhan penyaluran pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital masih cukup tinggi. Perusahaan juga terus berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dengan pengelolaan risiko agar pertumbuhan yang dicapai tetap berkelanjutan.

Transaksi Paylater Dominasi Portofolio Pembiayaan

Ia menuturkan, pertumbuhan tersebut didukung oleh tingginya volume transaksi yang mencapai 46,5 juta kali transaksi, utamanya melalui pembiayaan produk Buy Now Pay Later (BNPL/paylater).

Ia mengatakan, kontribusi produk tersebut mendominasi pendanaan yang disalurkan perseroan hingga dengan porsi 89 persen dari total keseluruhan portofolio pembiayaan perusahaan.

Layanan paylater memang menjadi salah satu produk yang banyak digunakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan proses pengajuan serta fleksibilitas pembayaran membuat layanan ini semakin diminati, terutama untuk berbagai transaksi belanja online maupun kebutuhan sehari-hari.

“Dan pertumbuhan ini not just on the top line (tidak hanya fokus pada pendapatan), tapi juga kami dapat nge-manage (mengelola) juga di middle line (laba kotor), sehingga bottom line (laba bersih) kami secara profitability (profitabilitas) itu juga tumbuh dengan sangat baik," ujar Perry.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan volume bisnis, tetapi juga berupaya menjaga efisiensi dan kualitas pengelolaan keuangan agar profitabilitas tetap terjaga.

Laba Perusahaan Melonjak Hingga 66 Persen

Ia mengungkapkan, capaian laba atau profitabilitas perusahaan melonjak 66 persen yoy, dari Rp65 miliar pada 2024 menjadi Rp108 miliar pada 2025.

Peningkatan laba tersebut menjadi indikator bahwa strategi bisnis yang dijalankan perusahaan mampu memberikan hasil yang positif. Pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang disertai pengelolaan biaya yang baik turut mendorong peningkatan kinerja keuangan secara keseluruhan.

Selain laba, ia menyatakan bahwa nilai piutang pembiayaan yang dikelola atau managed loan receivables juga tercatat meningkat hingga mencapai angka Rp2,5 triliun.

Pertumbuhan nilai piutang pembiayaan ini mencerminkan semakin luasnya portofolio pembiayaan yang dikelola perusahaan. Dengan meningkatnya jumlah pembiayaan yang disalurkan, perusahaan memiliki peluang untuk memperluas jangkauan layanan ke lebih banyak konsumen.

Manajemen Risiko Tetap Dijaga di Tengah Pertumbuhan

Meski penyaluran pembiayaan dan transaksi naik signifikan, Perry mengatakan indikator rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing) net mampu ditekan dan dijaga pada level yang sangat sehat, yaitu sebesar 1,1 persen.

Ia menuturkan, perseroan juga mencatatkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) yang cukup stabil serta masih tergolong rendah, yakni di level 2 kali.

Pengelolaan risiko menjadi salah satu aspek penting dalam industri pembiayaan, terutama ketika perusahaan melakukan ekspansi penyaluran kredit secara agresif. Dengan menjaga rasio pembiayaan bermasalah tetap rendah, perusahaan dapat mempertahankan kualitas portofolio pembiayaannya.

"Jadi di tahun 2025 adalah basically (pada dasarnya) tahun di mana kami dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan dengan praktek majemen risiko yang konservatif," imbuhnya.

Kinerja yang dicapai sepanjang 2025 tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan stabilitas keuangan. Dengan strategi manajemen risiko yang konservatif, perusahaan berharap dapat mempertahankan pertumbuhan yang sehat di masa mendatang sekaligus memperluas layanan pembiayaan digital bagi masyarakat.

Terkini